Vihara Girinaga & Buddhajayanti™

Spread Dhamma All Over the World

Photobucket

Delapan Kebohongan Ibu

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 10:08:00 PM

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abangku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari

Daya Tarik Buddhisme

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 10:01:00 PM

Daya tarik Ajaran Buddha berkembang dengan mantap di seluruh dunia, khususnya bagi mereka yang mencari jawaban di arus globalisasi yang deras ini.

Jumlah pengikut Ajaran Buddha berkembang dengan pesat di banyak bagian dunia, teristimewa di Australia, Amerika Serikat dan banyak negara di Eropa.
Sebagian negara di Asia di mana Ajaran Buddha pernah secara paksa digantikan oleh ajaran komunisme, sekarang muncul kembali dengan gilang gemilang.
Mengapa ketertarikan terhadap Ajaran Buddha ini bertambah besar dan begitu cepat perkembangannya?
Barangkali karena semakin banyak orang yang mengakui fakta-fakta di sekitar Buddhisme. Yaitu:
Agama Buddha mengedepankan PERDAMAIAN yang sebenarnya dan tidak pernah menganjurkan Kekerasan Apapun di atas namanya.

Ajaran Buddha adalah salah satu Agama Dunia yang paling tua, yang hingga kini, mempunyai reputasi terhormat sebagai satu-satunya agama yang belum pernah mempunyai Perang Suci.

Tak ada satu tokoh Buddhis yang pernah maju ke medan perang untuk menaklukkan kafir atau untuk mengubah orang lain menjadi Penganut Ajaran Buddha.

Tak seorangpun yang pernah dihadapkan kepada pedang, atau dihukum gantung atau dengan kata lain dihukum karena tidak percaya pada Ajaran Buddha.

Agama yang menekankan Belas Kasih, Penerimaan dan Kebaikan

Umat Budha dikenal akan keteladanan, kebajikan hati dan keramahan mereka, bersifat menerima dan tidak mengedepankan cara-cara penghakiman.

Hingga saat ini, Buddhisme menyebar ke wilayah yang baru, tidak disebabkan oleh pengaruh Para Misionaris dengan tujuan agresif guna mengubah keyakinan orang lain, tetapi biasanya oleh inisiatif orang lokal yang mempersilahkan atau mengundang para guru agar dapat berbagi ajaran.

Agama yang menyediakan Jalan Terang untuk perkembangan Rohani dan Pribadi.

Ajaran Buddha bukanlah sebuah koleksi Mitos dan Cerita untuk menguji penalaran kita. Juga tidak hadir sebagai misteri yang hanya bisa dimengerti oleh para Biksu, Pandita atau sekelompok orang tertentu yang lebih disukai atau orang–orang Yang Terpilih.

Ajaran Buddha hadir sebagai Jalan Terang yang dapat di percaya dan bisa dilakukan siapa saja menurut pengertian, pemahaman dan kemampuannya sendiri, yang merupakan suatu metode yang dapat diterapkan, dan memberikan hasil yang bisa dialami dengan segera.

Agama yang mengajarkan untuk mengambil Tanggung Jawab Penuh atas Tindakan yang dilakukan.

Buddhisme tidak mencoba menerangkan masalah di dunia sebagai bagian dari rencana misterius Dewata. Tidak menyalahkan sesuatu pada nasib atau wangsit yang manapun terhadap apa saja yang terjadi, baik atau buruk atas pengalaman hidup yang dialami. Malahan, Buddhisme mengajarkan bahwa kita harus bertanggung-jawab untuk hasil tindakan yang telah dilakukan dan sebagai penentu takdir kita sendiri. Alih–alih menghindar atau lari dari persoalan hidup, kita di anjurkan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada tanpa masalah.

Agama yang tidak mempunyai tempat untuk Kepercayaan Buta atau Pemujaan yang Tidak melalui Penalaran.

Banyak agama yang menekankan pada dogma dan menuntut pengikutnya untuk percaya secara membabi buta, hal ini menjadi aneh atau tanpa dasar dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Buddhisme tidak mempunyai doktrin seperti itu.

Buddha tidak menginginkan umatnya untuk percaya kepadanya secara membuta, melainkan mengajarkan pengikutnya untuk berpikir, untuk mempertanyakan dan untuk memahami ajarannya berdasarkan pengertian.

Ajaran tentang keterbukaan pikiran dan hati yang simpatik, yang menerangi dan menghangatkan alam semesta dengan sinar Kebijaksanaan dan Belas Kasih. Oleh karena itu Ajaran Buddha disebut Agama yang berdasarkan Analisis.


EHIPASSIKO Datang dan Lihatlah Sendiri, Agama yang menyambut baik Pertanyaan dan Pemeriksaan ke dalam Ajarannya sendiri.

Kebebasan berpikir sungguh penting. Ajaran Buddha dijalankan secara Ehipassiko, yang artinya mengundang untuk Datang dan Bukti kan, bukan Datang dan Percaya begitu saja. Ajaran yang membuka diri untuk ditelaah, diamati dan diselidiki. Tidak ada kewajiban atau paksaan apapun agar percaya atau menerima Ajaran Buddha.

Buddha menunjukkan Jalan Keselamatan, selanjutnya terserah setiap insan untuk memutuskan mau mengikutinya atau tidak. Buddha mengibaratkan Ajarannya sebagai RAKIT.

Agama yang menekankan nilai–nilai Universal

Ajaran yang menitik beratkan pada Kebahagiaan Sejati Bagi Semua Mahluk. Ajaran yang dapat dipraktekkan dalam masyarakat atau dalam pertapaan, oleh semua ras dan sistem kepercayaan. Ajaran yang sama sekali tidak memihak, sehingga tidak ada ‘TEROR’ di dalam Agama Buddha. Ajaran yang membebaskan umatnya dari cengkraman para Imam dan juga merupakan Jalan agar Bebas dari Kemunafikan dan Penindasan Keagamaan.

Buddhisme mengajarkan bahwa "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dituai. la yang berbuat baik akan menerima kebaikan, ia yang berbuat jahat akan menerima kejahatan". Hukum yang berlaku secara universal tanpa memerlukan Label Keagamaan.

Agama yang selaras dengan ilmu Pengetahuan Modern dan merupakan Agama Masa Depan

Ajaran Buddha tidak pernah merasa perlu untuk memberikan tafsiran baru terhadap ajarannya (kitab sucinya) atas Penemuan Ilmiah yang ada belakangan ini. Ilmu Pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan Buddhisme, karena Ajarannya yang bersifat Ilmiah.

Asas-asas Buddhisme dapat dipertahankan dalam keadaan apapun tanpa mengubah gagasan dasar. Ajaran Buddha dihargai sepanjang masa, oleh para cendikiawan, ilmuwan, ahli filsafat, kaum rasionalis, bahkan para pemikir bebas.

Inilah beberapa fakta yang telah menjadi daya tarik Buddhisme, sejak zaman dahulu, zaman kini hingga di waktu yang akan datang.

Daya Tarik Ajaran BUDDHISME

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 09:52:00 PM

Daya tarik Ajaran Buddha berkembang dengan mantap di seluruh dunia, khususnya bagi mereka yang mencari jawaban di arus globalisasi yang deras ini. Jumlah pengikut Ajaran Buddha berkembang dengan pesat di banyak bagian dunia, teristimewa di Australia, Amerika Serikat dan banyak negara di Eropa.Sebagian negara di Asia di mana Ajaran Buddha pernah secara paksa digantikan oleh ajaran komunisme, sekarang muncul kembali dengan gilang gemilang.
Mengapa ketertarikan terhadap Ajaran Buddha ini bertambah besar dan begitu cepat perkembangannya?
Barangkali karena semakin banyak orang yang mengakui fakta-fakta di sekitar Buddhisme. Yaitu:
Agama Buddha mengedepankan PERDAMAIAN yang sebenarnya dan tidak pernah menganjurkan kekerasan apapun di atas namanya.

Ajaran Buddha adalah salah satu Agama Dunia yang paling tua, yang hingga kini, mempunyai reputasi terhormat sebagai satu-satunya agama yang belum pernah mempunyai Perang Suci. Tak ada satu tokoh Buddhis yang pernah maju ke medan perang untuk menaklukkan kafir atau untuk mengubah orang lain menjadi Penganut Ajaran Buddha.
Tak seorangpun yang pernah dihadapkan kepada pedang, atau dihukum gantung atau dengan kata lain dihukum karena tidak percaya pada Ajaran Buddha.

Agama yang menekankan Belas Kasih, Penerimaan dan Kebaikan

Umat Budha dikenal akan keteladanan, kebajikan hati dan keramahan mereka, bersifat menerima dan tidak mengedepankan cara-cara penghakiman. Hingga saat ini, Buddhisme menyebar ke wilayah yang baru, tidak disebabkan oleh pengaruh Para Misionaris dengan tujuan agresif guna mengubah keyakinan orang lain, tetapi biasanya oleh inisiatif orang lokal yang mempersilahkan atau mengundang para guru agar dapat berbagi ajaran.

Agama yang menyediakan Jalan Terang untuk perkembangan Rohani dan Pribadi.

Ajaran Buddha bukanlah sebuah koleksi Mitos dan Cerita untuk menguji penalaran kita. Juga tidak hadir sebagai misteri yang hanya bisa dimengerti oleh para Biksu, Pandita atau sekelompok orang tertentu yang lebih disukai atau orang–orang Yang Terpilih. Ajaran Buddha hadir sebagai Jalan Terang yang dapat di percaya dan bisa dilakukan siapa saja menurut pengertian, pemahaman dan kemampuannya sendiri, yang merupakan suatu metode yang dapat diterapkan, dan memberikan hasil yang bisa dialami dengan segera.

Agama yang mengajarkan untuk mengambil Tanggung Jawab Penuh atas Tindakan yang dilakukan.

Buddhisme tidak mencoba menerangkan masalah di dunia sebagai bagian dari rencana misterius Dewata. Tidak menyalahkan sesuatu pada nasib atau wangsit yang manapun terhadap apa saja yang terjadi, baik atau buruk atas pengalaman hidup yang dialami. Malahan, Buddhisme mengajarkan bahwa kita harus bertanggung-jawab untuk hasil tindakan yang telah dilakukan dan sebagai penentu takdir kita sendiri. Kita dianjurkan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada tanpa masalah.

Agama yang tidak mempunyai tempat untuk Kepercayaan Buta atau Pemujaan yang Tidak melalui Penalaran.

Banyak agama yang menekankan pada dogma dan menuntut pengikutnya untuk percaya secara membabi buta, hal ini menjadi aneh atau tanpa dasar dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Buddhisme tidak mempunyai doktrin seperti itu. Buddha tidak menginginkan umatnya untuk percaya kepadanya secara membuta, melainkan mengajarkan pengikutnya untuk berpikir, untuk mempertanyakan dan untuk memahami ajarannya berdasarkan pengertian. Ajaran tentang keterbukaan pikiran dan hati yang simpatik, yang menerangi dan menghangatkan alam semesta dengan sinar Kebijaksanaan dan Belas Kasih. Oleh karena itu Ajaran Buddha disebut Agama yang berdasarkan Analisis.


EHIPASSIKO Datang dan Lihatlah Sendiri, Agama yang menyambut baik Pertanyaan dan Pemeriksaan ke dalam Ajarannya sendiri.

Kebebasan berpikir sungguh penting. Ajaran Buddha dijalankan secara Ehipassiko, yang artinya mengundang untuk Datang dan Bukti kan, bukan Datang dan Percaya begitu saja. Ajaran yang membuka diri untuk ditelaah, diamati dan diselidiki. Tidak ada kewajiban atau paksaan apapun agar percaya atau menerima Ajaran Buddha. Buddha menunjukkan Jalan Keselamatan, selanjutnya terserah setiap insan untuk memutuskan mau mengikutinya atau tidak. Buddha mengibaratkan Ajarannya sebagai RAKIT.

Agama yang menekankan nilai–nilai Universal

Ajaran yang menitik beratkan pada Kebahagiaan Sejati Bagi Semua Mahluk. Ajaran yang dapat dipraktekkan dalam masyarakat atau dalam pertapaan, oleh semua ras dan sistem kepercayaan. Ajaran yang sama sekali tidak memihak, sehingga tidak ada ‘TEROR’ di dalam Agama Buddha. Ajaran yang membebaskan umatnya dari cengkraman para Imam dan juga merupakan Jalan agar Bebas dari Kemunafikan dan Penindasan Keagamaan. Buddhisme mengajarkan bahwa "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dituai. la yang berbuat baik akan menerima kebaikan, ia yang berbuat jahat akan menerima kejahatan". Hukum yang berlaku secara universal tanpa memerlukan Label Keagamaan.

Agama yang selaras dengan ilmu Pengetahuan Modern dan merupakan Agama Masa Depan

Ajaran Buddha tidak pernah merasa perlu untuk memberikan tafsiran baru terhadap ajarannya (kitab sucinya) atas Penemuan Ilmiah yang ada belakangan ini. Ilmu Pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan Buddhisme, karena Ajarannya yang bersifat Ilmiah. Asas-asas Buddhisme dapat dipertahankan dalam keadaan apapun tanpa mengubah gagasan dasar. Ajaran Buddha dihargai sepanjang masa, oleh para cendikiawan, ilmuwan, ahli filsafat, kaum rasionalis, bahkan para pemikir bebas.

Inilah beberapa fakta yang telah menjadi daya tarik Buddhisme, sejak zaman dahulu, zaman kini hingga di waktu yang akan datang.

Datang Karena Kagum

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 09:51:00 PM

Kegiatan puja bhakti adalah kegiatan yang sangat baik. Selain bisa menambah kamma baik, juga dapat meningkatkan pengetahuan dan pengertian tentang Dhamma. Hanya saja kegiatan ini sering disalahartikan. Dengan jadwal yang hanya seminggu sekali, ada saja yang merasa keberatan. Kalau ditanya, alasannya: sibuk. Alasan yang klise.

Biasanya kalau orang menjawab begitu, saya akan mengatakan dia "sungguh luar biasa". Lihat saja sebagian besar pejabat negara kita. Dalam sehari mereka bisa melaksanakan sholat lima kali. Padahal sibuknya luar biasa. Bapak Presiden kita juga demikian. Tetap menjalankan ibadah yang sama walaupun acaranya sangat padat. Kalau kita, umat Buddha, berpuja bhakti seminggu sekali saja sudah merasa sibuk, berarti jadwal kita lebih padat dari seorang presiden!

Ada yang lebih parah. "Ke vihãra atau tidak, sama saja. Di vihãra kita toh baca paritta, di rumah juga kan bisa," begitu kilah mereka. Mereka ini adalah orang yang tidak mengerti manfaat dan fungsi datang ke vihãra.

Sebetulnya kita datang ke vihãra harus didasari oleh rasa kagum. Ya, rasa kagum kepada Sang Buddha. Kita (seharusnya) datang karena mencari Sang Buddha. Ada yang tidak datang lagi ke vihãra dengan alasan pemuda vihãra cuek. Sebagai umat baru, dia merasa tidak diperhatikan. Ada juga yang tidak mau datang karena (katanya) Bhikkhunya sombong.

Kita ke vihãra 'kan untuk mencari Sang Buddha. Bukan cari pemuda vihãra atau cari Bhikkhu. Kalau orang sudah memahami hal ini, berarti ia telah merasakan manfaat ikut Agama Buddha.

Kita harus kagum karena kita sudah mengerti ajaran-Nya, walaupun mungkin masih sedikit. Bagaimana bisa lebih mengerti kalau tidak mau ke vihãra? Membaca paritta di rumah memang menambah kamma baik, tapi tidak menambah pengertian kita. Untuk itulah perlu ke vihãra. Di vihãra kita juga bisa bertemu dengan teman-teman dan berbagi pengalaman, baik pengalaman biasa ataupun yang berkaitannya dengan Dhamma. Misalnya, ada yang bercerita bahwa sebelum kenal Agama Buddha dia suka marah-marah. Tapi sekarang bisa jadi tenang. Ada juga yang bercerita kalau dulu di sekolah dia bodoh sekali. Ujian tidak pernah lulus. Sekarang cerdas, ujian bisa lulus terus. Soalnya sudah mengenal ajaran Sang Buddha. Berbagi pengalaman dan kesaksian seperti ini sangatlah perlu.

Colombus dan Telur

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 09:48:00 PM

Ini sebuah cerita kecil di balik kesuksesan Colombus yang menemukan benua Amerika. Setelah penemuan yang fenomenal itu, Colombus menjadi sangat terkenal dan diagung-agungkan oleh Raja dan seluruh rakyat. Colombus pun diangkat menjadi bangsawan kehormatan kerajaan.

Kepopuleran Colombus itu membuat beberapa orang menjadi iri kepadanya. Suatu hari, Colombus mengadakan perjamuan makan. Dalam perjamuan makan itu dia menceritakan semua kisah yang dihadapi dalam pencarian benua baru tersebut. Semua tamu undangan terpukau dan mengakui kehebatan sang Penemu Benua Baru tersebut. Namun beberapa orang yang iri dengan sinis berkata, “Apa hebatnya dia ? Dia Cuma berlayar dan kebetulan saja menemukan benua baru. Siapa saja bias melakukan itu.”

Mendengar hal tersebut, Colombus kemudian menantang para orang yang iri tersebut. “Marilah kita bertanding untuk membuktikan siapakah yang lebih baik. Barangsiapa yang berhasil membuat telur-telur rebus ini berdiri di atas meja makan, maka ialah orang yang terbaik dan semua gelar-kekayaanku akan kuserahkan padanya.”

Orang-orang yang iri tersebut menerima tantangan Colombus. Kemudian mereka mulai berusaha untuk membuat telur-telur rebus itu berdiri di atas meja makan. Namun, karena telur itu benda yang elips, maka cukup mustahil untuk bisa berdiri di atas meja. Tiap kali dicoba untuk diberdirikan, telur-telur itu langsung saja menggelinding jatuh. Akhirnya, mereka pun menyerah.

Kini, tiba giliran Colombus. Ia memegang telur rebus itu di atas meja dengan posisi berdiri sambil dipegangi, kemudian dengan tangan yang satunya Colombus menekan ujung atas telur rebus itu ke meja sehingga ujung bawah telur menjadi remuk dan memipih. Karena tidak lonjong lagi, telur tersebut bisa berdiri tegak di atas meja. Melihat hal tersebut, orang-orang yang iri kepadanya dengan sini berkata, ”Ah…kalau caranya seperti itu, kami juga bisa membuat telur rebus itu berdiri.”

Dengan bijak dan sambil tersenyum, Colombus berkata, “Kalau begitu, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi ?”

Cerita di atas hendak memberitahukan kita bahwa kesuksesan dan keberhasilan berasal dari suatu tindakan nyata atas gagasan kita. Colombus dari beberapa orang pada masa itu mempunyai gagasan tentang bumi yang bulat. Teori tersebut jelas-jelas bertentangan dengan kepercayaan pada waktu itu bahwa bumi itu datar seperti piring. Ketika Colombus mengutarakan niatnya untuk melakukan ekspedisi laut, banyak orang termasuk keluarganya menganggap dirinya gila. Namun, Colombus tetap teguh pada pendiriannya. Ancaman hukuman mati atas pengingkaran hokum Tuhan, ia hadapi dengan tegar sehingga pada akhirnya, sejarah mencatatnya sebagai penemu benua dan pelaut handal.

Seringkali, ketakutan atas kegagalan, penilaian miring orang lain, penderitaan dan sebagainya, membuat kita terhalang untuk menemukan kesuksesan. Kadang kita juga merasa iri atas keberhasilan orang lain. Kita sering berkata, ”Ah, dia sih cuma beruntung saja. Aku pun bisa melakukannya.”

Jadi, apa yang Anda pilih ? Gagal karena terlalu takut untuk gagal atau berhasil karena tidak takut gagal ? Hanya Anda yang bisa memilih.

Asal Usul Imlek II

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 09:45:00 PM

Festival musim semi atau tahun baru penanggalan Imlek adalah hari raya akhir tahun dalam penanggalan Tionghoa, umumnya disebut "tahun baru". Merupakan perayaan hari raya tradisional yang paling meriah dan khidmat di kalangan rakyat Tionghoa. Sebelum tanggal 1 Januari (penanggalan Tionghoa) ada upacara sembahyang, upacara peringatan untuk orang yang telah wafat dan upacara lainnya; di hari raya itu ada pemberian angpao kepada anak-anak, silaturahmi antarfamili serta sahabat dan perayaan lainnya, pertengahan bulan setelah hari raya tersebut adalah pesta lampion pada malam Capgomeh, dan setelah pesta lampion berlalu pada malam Capgomeh yang dipenuhi dengan lentera hias seluruh kota, hari raya festival musim semi baru benar-benar dianggap berakhir.

Sejarah festival musim semi sudah sangat lama, asal mulanya berasal dari kegiatan upacara sembahyang memperingati peringatan leluhur dan menyembahyangi dewa ketika pergantian tahun baru pada masa Dinasti Yin dan Shang. Dan mengenai berbagai macam mitologinya juga banyak sekali.

Mitos tentang "Tahun" Binatang

Ada sebuah legenda kuno yang mengisahkan asal usul tradisi perayaan Imlek di Tiongkok, begini ceritanya :

Dahulu kala ada seekor monster jahat yang memiliki kepala panjang dan tanduk yang tajam. Monster yang bernama nian ini sangat ganas, dia berdiam didasar lautan, namun setiap tahun baru dia muncul kedarat untuk menyerang penduduk desa dan menelan hewan ternak. Oleh karena itu setiap menjelang tahun baru, seluruh penduduk desa selalu bersembunyi dibalik pegunungan untuk menghindari serangan monster nian ini.

Pada malam tahun baru di suatu tahun, orang-orang di sebuah pedesaan sedang memapah orang tua dan menuntun anak-anak kecil pergi ke gunung untuk menghindari petaka, dan dari luar pedesaan datang seorang kakek pengemis, tangannya memegang sebuah tongkat, tampak tua namun sehat, penuh vitalitas dan semangatnya luar biasa.

Orang-orang sekampung ada yang sibuk berkemas-kemas, ada yang sibuk menuntun sapi menggiring domba, tampak sebuah suasana yang tergesa-gesa dan menakutkan. Dan di saat demikian, tidak ada lagi orang yang berkonsentrasi memperhatikan sang kakek pengemis itu.

Hanya seorang nenek yang baik hati di ujung timur desa yang memberikan sejumlah makanan kepada kakek pengemis itu, sekaligus menganjurkan kepadanya agar segera pergi ke gunung untuk menghindarkan diri. Kakek itu berkata: "Nek, jika mengizinkan saya tinggal semalam di rumah Anda, saya pasti akan mengusir monster itu.

Si nenek mengira bahwa sang kakek sedang bercanda, maka terus membujuk sang kakek agar segera pergi ke gunung, namun kakek pengemis menggelengkan kepalanya tidak mau pergi. Si nenek tidak berdaya, mau tidak mau meninggalkan rumahnya dan diri sendiri pergi ke gunung untuk menghindari musibah.

Waktu tengah malam, monster "nian" menerobos masuk ke desa. Ia mendapati di ujung timur rumah si nenek, pintu rumahnya ditempeli kertas merah besar, dan di dalam rumah diterangi dengan lampu lilin yang sangat terang. Monster memandang sekilas dengan marah rumah si nenek, dan segera menerjang ke rumah si nenek sambil berteriak marah. Ketika hampir mendekati pintu masuk, tiba-tiba terdengar suara ledakan petasan di ruang dalam, dan sekujur badannya menggigil gemetar, dan tidak berani mendekat lagi.

Ternyata, monster ini takut dengan warna merah, cahaya api dan suara ledakan. Dan di saat itu, pintu rumah itu terbuka lebar, di dalam rumah tampak seorang kakek yang tubuhnya dibaluti dengan jubah merah. Saking terkejutnya monster "nian" berbalik dan lari terbirit-birit.

Pada hari kedua adalah tanggal 1 Januari, orang-orang yang kembali dari pengungsian merasa sangat heran melihat desa dalam keadaan aman dan selamat. Saat itu nenek baru sadar dengan apa yang telah terjadi, dan menceritakan tentang janji sang kakek pengemis kepada orang-orang sekampung.

Orang-orang sekampung berbondong-bondong ke rumah nenek, dan yang terlihat hanya tempelan kertas merah di pintu rumah nenek, di halaman dalam terdapat setumpuk petasan yang belum habis terbakar masih meledak-ledak, dan beberapa lilin merah di dalam rumah masih menyala dengan sisa cahayanya.

Kakek tua itu sebenarnya adalah Dewata yang datang untuk menolong penduduk desa mengusir monster nian ini. Mereka juga menemukan 3 peralatan yang digunakan lelaki tua itu untuk mengusir nian.

Orang-orang sekampung yang bergembira ria beramai-ramai mengenakan pakaian dan topi baru, berkunjung ke rumah famili dan sahabat mengucapkan selamat menyampaikan salam, dan merayakan dengan damai serta selamat telah melewati hari itu. Dengan demikian, semua orang telah mengetahui cara yang aman mengusir binatang yang bernama "Tahun" pada tahun baru itu.

http://www.erabaru.or.id/images/chinese_lantern.jpg

Sejak itu, setiap perayaan Tahun Baru Imlek mereka memasang kain merah, menyalakan petasan dan menyalakan lentera sepanjang malam, menunggu datangnya Tahun Baru, menjaga hingga larut malam dan menanti pergantian tahun. Tanggal 1 Januari pagi hari, masih harus berkunjung ke rumah famili maupun sahabat untuk mengucapkan selamat bertahun baru. Tradisi ini semakin lama semakin luas penyebarannya, dan menjadi hari raya tradisional yang paling khidmat di kalangan rakyat Tionghoa.

Mulai dari itu, Adat istiadat ini akhirnya menyebar luar dan menjadi sebuah perayaan tradisional orang Tionghoa yang megah dalam menyambut “berlalunya nian” (dalam bahasa Tionghoa, nian berarti tahun)

Orang Tionghoa selalu mengkaitkan periode waktu dari hari ke 23 hingga ke 30 dalam 12 belas bulan tahun lunar tepat sebelum Hari Raya Imlek sebagai “nian kecil”.

Setiap keluarga Tionghoa diharuskan membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka untuk menyambut datangnya tahun baru. Disamping membersihkan lingkungan sekitar, setiap keluarga Tionghoa membuat berbagai hidangan menyambut Imlek yang terbuat dari daging ayam, bebek, ikan dan sapi / babi, serta manisan dan buah-buahan. Tak ketinggalan pula para orang tua membelikan baju baru untuk anak-anaknya dan mempersiapkan bingkisan angpao saat mengunjungi kerabat dan keluarga.

Ketika malam Tahun Baru tiba, seluruh keluarga berkumpul bersama. Di wilayah utara Tiongkok, setiap keluarga memiliki tradisi makan kue bola apel, yang dalam bahasa Tionghoa-nya disebut Jiao, pelafalannya sama dengan kata bersama dalam bahasa Tionghoa, sehingga kue bola apel sebagai symbol kebersamaan dan kebahagiaan keluarga. Selain itu jiao juga bermakna datangnya tahun baru. Diwilayah selatan Tiongkok, masyarakatnya suka sekali memakan kue manisan Tahun Baru (yang terbuat dari tepung beras lengket), yang melambangkan manisnya kehidupan dan membuat kemajuan dalam Tahun Baru ini (dalam bahasa Tionghoa kata “kue” dan “membuat kemajuan” memiliki pelafalan yang sama dengan kata gao) Menjelang jam 12 malam, setiap keluarga akan menyalakan petasan.

Hari pertama Tahun Baru Imlek, orang Tionghoa menggunakan baju baru dan mengucapkan selamat kepada orang yang lebih tua. Anak-anak yang mengucapkan tahun baru kepada yang lebih tua, akan mendapatkan angpao uang. Sedangkan pada hari kedua dan ketiga, mereka saling mengunjungi teman dan kerabat dekatnya.

Selama masa perayaan Tahun Baru Imlek, pada umumnya jalan-jalan diarea perdagangan penuh sesak dengan keluarga Tionghoa yang berbelanja untuk keperluan Imlek. Dibeberapa tempat diluar negeri biasanya diadakan berbagai acara hiburan menyambut Imlek seperti pertunjukkan Barongsai dan Naga, pasar bunga dan pameran klenteng.

Setelah hari ke 15 bulan pertama dalam kalender Lunar, adalah waktu diadakannya Festival Lentera, yang menandakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.

Pembuatan Kalender Selaksa Tahun
Menurut dongeng, pada zaman dahulu kala, ada seorang pemuda yang bernama Wan Nian (Selaksa Tahun), melihat catatan waktu tentang perubahan iklim alam sangat kacau, lantas mempertimbangkan bagaimana caranya menentukan secara tepat perubahan iklim tersebut. Pada suatu hari, ia pergi ke gunung mencari kayu bakar, ketika sedang istirahat duduk di bawah naungan pohon, melihat gerakan bayangan pohon, merasa mendapat inspirasi, lalu merancang sebuah instrumen waktu untuk mencatat perubahan iklim dengan berdasarkan pengukuran bayangan matahari. Namun, instrumen waktu ini, di mana saat cuaca mendung dan hujan, menjadi tidak bermanfaat. Belakangan, ia mendapatkan ilham lagi dari tetesan mata air di lereng gunung, lalu membuat lagi sebuah jam air 5 tingkat. Dan belakangan ia mendapati, bahwa setiap lebih dari 360 hari, panjang pendeknya iklim akan mengulang sekali lagi.

Raja waktu itu namanya Zhu Yi, tidak terdeteksinya iklim dan angin membuatnya risau. Dan setelah Wan Nian mengetahuinya, lalu membawa jam matahari dan jam air menemui raja, menjelaskan prinsip peredaran bulan dan matahari. Raja Zhu Yi sangat gembira setelah mendengarnya, lalu menyuruh Wan Nian tinggal, membuat paviliun bulan dan matahari di depan kuil langit, membuat menara jam matahari dan pos jam air. "Mudah-mudahan kamu bisa mengukir secara tepat hukum peredaran bulan dan matahari, memperhitungkan secara tepat waktu fajar, dan membuat penanggalan, untuk kesejahteraan seluruh rakyat di dunia."

Wan Nian mengukir penanggalannya di atas tebing samping kuil langit:

Terbit dan tenggelamnya matahari 360,
Berputar ulang dimulai dari awal.
Layu dan seminya tumbuh-tumbuhan dibagi empat musim,
Satu tahun terdapat 12 bulan.

Suatu hari Raja Zhu Yi naik ke atas paviliun bulan dan matahari menengok Wan Nian. Wan Nian menunjuk gejala langit, berkata kepada Raja Zhu Yi: "Sekarang tepat genap 12 bulan, tahun lama sudah berakhir, musim semi mulai lagi, mohon raja menetapkan suatu hari raya." Raja Zhu Yi berkata: "Musim semi adalah awal tahun, jadi disebut saja hari raya musim semi." Kemudian, melalui pengamatan yang panjang dan perhitungan yang cermat, Wan Nian menetapkan penanggalan yang tepat. Ketika dia mempersembahkan penanggalan kepada raja berikutnya, ia sudah berambut putih kemilau.

Demi untuk memperingati jasa Wan Nian, maka raja memberi nama penanggalan tersebut sebagai "Penanggalan Wan Nian", dan menganugerahkan Wan Nian sebagai dewa panjang umur bulan dan matahari. Belakangan, saat tahun baru orang-orang menggantung gambar dewa panjang umur, dan konon katanya adalah untuk memperingati Wan Nian, maka hari raya tersebut lantas dinamakan festival musim semi.

Asal Usul Imlek I

Written by Vihara Girinaga on 4/01/2008 09:42:00 PM

Ada sebuah legenda kuno yang mengisahkan asal usul tradisi perayaan
Imlek di Tiongkok, begini ceritanya :

Dahulu kala ada seekor monster jahat yang memiliki kepala panjang dan
tanduk yang tajam. Monster yang bernama /nian/ ini sangat ganas, dia
berdiam didasar lautan, namun setiap tahun baru dia muncul kedarat untuk
menyerang penduduk desa dan menelan hewan ternak. Oleh karena itu setiap
menjelang tahun baru, seluruh penduduk desa selalu bersembunyi dibalik
pegunungan untuk menghindari serangan monster /nian/ ini.

Pada suatu hari saat menjelang pergantian tahun, semua penduduk desa
sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka untuk mengungsi ke
pegunungan, datanglah seorang lelaki tua berambut abu-abu ke desa itu.
Dia memohon ijin menginap semalam pada seorang wanita tua dan
meyakinkannya bahwa dia dapat mengusir pergi monster /nian/ ini. Tak ada
satupun yang mempercayainya. Wanita tua ini memperingatkan dia untuk
ikut bersembunyi bersama penduduk desa lainnya, tetapi lelaki tua ini
bersikukuh menolaknya. Akhirnya penduduk desa meninggalkan dia sendirian
di desa itu.

Ketika monster nian mendatangi desa ini untuk membuat kekacauan,
tiba-tiba dia dikejutkan suara ledakan petasan. Nian menjadi sangat
ketakutan melihat warna merah, kobaran api dan mendengar suara petasan
itu. Pada saat bersamaan pintu rumah terbuka lebar lalu muncullah lelaki
tua itu dengan mengenakan baju berwarna merah sambil tertawa keras. Nian
terkejut dan menjadi pucat pasi, dan segera angkat kaki dari tempat itu.

Hari berikutnya, penduduk desa pulang dari tempat persembunyiannya,
mereka terkejut melihat seluruh desa utuh dan aman. Sesaat mereka baru
menyadari atas peristiwa yang terjadi. Lelaki tua itu sebenarnya adalah
Dewata yang datang untuk menolong penduduk desa mengusir monster nian
ini. Mereka juga menemukan 3 peralatan yang digunakan lelaki tua itu
untuk mengusir /nian/. Mulai dari itu, setiap perayaan Tahun Baru Imlek
mereka memasang kain merah, menyalakan petasan dan menyalakan lentera
sepanjang malam, menunggu datangnya Tahun Baru. Adat istiadat ini
akhirnya menyebar luar dan menjadi sebuah perayaan tradisional orang
Tionghoa yang megah dalam menyambut “berlalunya nian” (dalam bahasa
Tionghoa, nian berarti tahun).

Orang Tionghoa selalu mengkaitkan periode waktu dari hari ke 23 hingga
ke 30 dalam 12 belas bulan tahun lunar tepat sebelum Hari Raya Imlek
sebagai “nian kecil”.

Setiap keluarga Tionghoa diharuskan membersihkan lingkungan tempat
tinggal mereka untuk menyambut datangnya tahun baru. Disamping
membersihkan lingkungan sekitar, setiap keluarga Tionghoa membuat
berbagai hidangan menyambut Imlek yang terbuat dari daging ayam, bebek,
ikan dan sapi / babi, serta manisan dan buah-buahan. Tak ketinggalan
pula para orang tua membelikan baju baru untuk anak-anaknya dan
mempersiapkan bingkisan angpao saat mengunjungi kerabat dan keluarga.

Ketika malam Tahun Baru tiba, seluruh keluarga berkumpul bersama. Di
wilayah utara Tiongkok, setiap keluarga memiliki tradisi makan kue bola
apel, yang dalam bahasa Tionghoa-nya disebut /Jiao/, pelafalannya sama
dengan kata /bersama/ dalam bahasa Tionghoa, sehingga kue bola apel
sebagai symbol kebersamaan dan kebahagiaan keluarga. Selain itu /jiao/
juga bermakna datangnya tahun baru. Diwilayah selatan Tiongkok,
masyarakatnya suka sekali memakan kue manisan Tahun Baru (yang terbuat
dari tepung beras lengket), yang melambangkan manisnya kehidupan dan
membuat kemajuan dalam Tahun Baru ini (dalam bahasa Tionghoa kata “kue”
dan “membuat kemajuan” memiliki pelafalan yang sama dengan kata /gao/)
Menjelang jam 12 malam, setiap keluarga akan menyalakan petasan.

Hari pertama Tahun Baru Imlek, orang Tionghoa menggunakan baju baru dan
mengucapkan selamat kepada orang yang lebih tua. Anak-anak yang
mengucapkan tahun baru kepada yang lebih tua, akan mendapatkan /angpao/
uang. Sedangkan pada hari kedua dan ketiga, mereka saling mengunjungi
teman dan kerabat dekatnya.

Selama masa perayaan Tahun Baru Imlek, pada umumnya jalan-jalan diarea
perdagangan penuh sesak dengan keluarga Tionghoa yang berbelanja untuk
keperluan Imlek. Dibeberapa tempat diluar negeri biasanya diadakan
berbagai acara hiburan menyambut Imlek seperti pertunjukkan Barongsai
dan Naga, pasar bunga dan pameran klenteng.

Setelah hari ke 15 bulan pertama dalam kalender Lunar, adalah waktu
diadakannya Festival Lentera, yang menandakan berakhirnya perayaan Tahun
Baru Imlek.

The Four Face Brahma Sahampati (Phra Phrom)

Written by Joqy on 1/08/2008 10:24:00 PM


Brahma Sahampati, yang digambarkan memiliki empat wajah, sangat puja di kalangan umat Buddha Thai sebagai makhluk suci yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia.
Brahma Sahampati juga dikenal dalam komunitas Buddhis Cina, yang sering disebut sebagai Buddha-Empat Wajah / Four Face Buddha (四面佛).
Brahma Sahampati, dianggap sebagai Mahabrahma yang paling senior, yang merupakan makhluk suci tak terlihat, yang mengunjungi Sang Buddha ketika mencapai Penerangan Sempurna, kemudian ketika Sang Bhagava sedang bermeditasi di Uruvela, Brahma Sahampati mendorong Beliau untuk membabarkan Dhamma demi umat manusia.
Brahma Sahampati juga mendampingi Sang Buddha saat wafat, dan memberikan penghormatan sedalam-dalamnya, sebagaimana dituliskan dalam Maha-Parinibbana Sutta. Dari seluruh makhluk alam Brahma, Beliau-lah yang paling dekat dengan Sang Buddha.

Belajar dari Kisah Tukang Jam

Written by Joqy on 1/08/2008 10:08:00 PM


Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya, “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.536.000 kali selama setahun?”
“Ha…?” kata jam terperanjat. “Mana sanggup saya.”
“Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari ?”
“Sebanyak itu ? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini ?”jawab jam penuh keraguan.
“Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam ?”
“Dalam satu jam ? Banyak sekali itu ?” tetap saja jam membalas dengan ragu-ragu atas kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian berbicara kepada si jam, “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik ?”
“Nah, kalau itu aku pasti sanggup.” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali tiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa. Karena, ternyata selama satu tahun penuh ia telah berdetak tanpa henti. Itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.536.000 kali (coba saja Anda hitung sendiri !).
Ada kalanya, kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya, kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata “tidak” sebelum anda pernah mencobanya.
Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Ada pula dengan denyut jaunting, gairah dan air mata. Tetapi, ukuran sejati di bawah mentari adalah, apa yang telah Anda lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Buddhisme di Zaman Ilmiah

Written by Joqy on 1/08/2008 09:48:00 PM


Ajaran Buddha adalah sebuah agama besar yang menerangi umat manusia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu dan membebaskan manusia dari segala perbudakan dan praktik takhayul. Ajaran Buddha adalah agama yang ilmiah. Buddha Gotama dewasa ini dihormati oleh setiap orang yang berbudaya dan cendekia, tidak pandang agama apa pun yang mereka anut, sementara pendiri sebagian besar agama lainnya hanya dihormati oleh para pengikutnya saja. Bukan hanya kaum agamawan saja, tetapi para pemikir bebas pun menghormati Yang Tercerahkan Sempurna ini.

Dari sudut pandang sejarah, tiada Guru lain yang pernah hidup di dunia ini yang telah memberikan kebebasan beragama yang begitu besar serta hak menentukan keyakinan bagi umat manusia. Sebelum munculnya Sang Buddha, agama hanya dimiliki dan dimonopoli oleh suatu kelompok tertentu dari masyarakat. Sang Buddha adalah Guru dalam sejarah yang tanpa diskriminasi membuka gerbang agama bagi setiap orang di masyarakat. Sang Buddha telah menasihati para pengikut-Nya untuk melatih dan mengembangkan kekuatan laten manusia serta menunjukkan cara terbaik untuk memanfaatkan kekuatan pikiran dan akal budinya tanpa menjadi budak dari suatu makhluk yang tak dikenal, untuk menemukan kebahagiaan abadi yang Beliau umumkan kepada dunia melalui pengalaman-Nya sendiri dan bukan melalui teori-teori, kepercayaan belaka, maupun praktik-praktik tradisional. Ajaran-Nya adalah sedemikian rupa sehingga siapa saja dapat menjalankannya tanpa menyandang merek agama tertentu.
Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
Tiada konflik antara ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan. Keduanya memiliki tujuan senada, yaitu untuk menyingkapkan ‘kebenaran’ dan ‘fakta’. Banyak aspek dalam ajaran Buddha yang sebenarnya selaras dengan penemuan ilmiah modern. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Sang Buddha pernah berkata bahwa alam semesta ini tidak terbatas dan jumlah dunia ini tidak terhingga. Hanya setelah Galileo Galilei mulai mengamati planet dan bintang dengan teleskop, manusia memiliki pengetahuan yang lebih maju tentang astronomi. Manusia mulai memahami dan menerima bahwa bumi ini bukanlah pusat alam semesta. Bumi hanyalah sebuah planet kecil dalam tata surya dan jumlah tata surya di alam semesta tidaklah terhingga. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, tanpa teleskop, Sang Buddha telah berkata demikian; hanya seorang yang ‘luar biasa’ lah yang mampu mengungkapkan kebenaran yang selama ini menjadi misteri besar alam semesta.
b. Sang Buddha juga mengatakan bahwa jumlah kehidupan dalam dunia ini dan dunia lainnya adalah tidak terbatas. Beliau menunjuk sebuah cawan berisi air dan mengatakan bahwa ada kehidupan di dalam cawan tersebut yang tak terbatas jumlahnya. Dewasa ini, para ilmuwan tidak bisa menyangkal kemungkinan adanya kehidupan di planet lain. Di bawah mikroskop, secawan air terbukti mengandung jutaan jasad renik. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, tanpa mikroskop, Sang Buddha telah mampu mengungkapkan kebenaran semacam itu. Sungguh mengagumkan.
c. Salah satu prinsip ajaran Buddha menyatakan bahwa tiada sesuatu pun yang tidak berubah, segala sesuatu terus muncul dan lenyap. Hal ini sangat sesuai dengan teori atom Einstein E = mc2, membuktikan bahwa materi bisa diubah menjadi energi (lenyapnya zat) dan materi juga bisa terbentuk dari energi (munculnya zat).
d. Sang Buddha pernah berkata bahwa selama waktu Beliau menyelesaikan ceramah di bumi, ribuan tahun telah berlalu di dunia-dunia lainnya. Hal yang dianggap bagaikan dongeng ini tampaknya menjadi tidak asing lagi setelah Einstein mengemukakan Teori Relativitas.
Dalam sejarah peradaban, ilmu pengetahuan telah sering dianggap sebagai ancaman terhadap konsep keagamaan, sejak era Galileo, Bruno, Copernicus, dan Darwin. Akan tetapi, prinsip-prinsip dasar ajaran Buddha tidak bertentangan dengan penemuan ilmu pengetahuan. Sang Buddha telah mengutarakan hal yang senada dengan bahasa dan istilah yang berbeda.
Ungkapan penghargaan terhadap Sang Buddha dan ajaran-Nya juga telah diberikan oleh para filsuf, psikolog, dan pemikir di zaman modern ini, seperti Albert Einstein, H.G.Wells, Bertrand Russel, Aldous Huxley, C.G.Jung, Erich Fromm, dan lain-lain.
Dari sudut pandang ajaran Buddha, Kebenaran tidak memiliki batas-batas negara, bangsa, umat dan bahkan tidak memerlukan “merek” agama tertentu. Kebenaran bukanlah milik agama apa pun atau siapa pun. Ajaran Kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha bukanlah milik ekslusif diri-Nya atau umat-Nya. Sang Buddha semata-mata hanya telah menemukan dan melihat dengan jelas kebenaran tersebut. Seperti halnya Isaac Newton menemukan hukum gravitasi, dia bukanlah pemilik hukum tersebut.
Mengenai pentingnya keselarasan dan perpaduan antara agama dan ilmu pengetahuan, Albert Einstein mengatakan,” Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah pincang. Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta.” Ilmu pengetahuan bersama agama seperti Buddhisme bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih tenteram dan membahagiakan untuk ditinggali. Penting untuk dicatat, bahwa kalau kita pelajari lebih lanjut, tampak bahwa ajaran Buddha sebenarnya telah melampaui keterbatasan ilmu pengetahuan.

Cinta adalah Pengertian

Written by Joqy on 1/08/2008 09:30:00 PM


Ada seorang pemuda, namanya Budi, yang melihat seekor kalajengking akan tenggelam dalam suatu pusaran air. Muncul keinginan spontan untuk menyelamatkan si kalajengking ini. Sehingga, tanpa ragu-ragu Budi mengulurkan tangannya dan mengangkat kalajengking itu dari air dan hendak meletakkannya di tanah yang kering.
Namun, si kalajengking malah menyengatnya. Sesudah itu, kalajengking itu melanjutkan perjalanannya untuk menyeberang jalan dengan cara berjalan langsung menuju pusaran air itu lagi ! Melihat kalajengking itu gelagapan karena akan tenggelam lagi, Budi pun mengangkatnya untuk kedua kalinya. Sekali lagi, kalajengking itu menyengatnya !
Orang lain yang melihat peristiwa itu berkata pada Budi, “Mengapa kau bodoh sekali ? Kau lihat, bukan cuma sekali kau disengat. Dua kali ! Tolol sekali kau mau mencoba menyelamatkan kalajengking itu.”
Budi pun menjawab, “Pak, tidak bisa saya tidak melakukannya. Sudah menjadi sifat alami kalajengking itu untuk menyengat. Tetapi, juga sudah merupakan sifat alami saya untuk menyelamatkan. Maka yang harus saya lakukan adalah mencoba menyelamatkan kalajengking itu.”
Memang, sebenarnya Budi bisa mengembangkan kebijaksanaan. Dia bisa menggunakan tongkat atau kayu untuk mengangkat kalajengking itu. Tetapi, mungkin juga Budi berpikir bahwa dia bisa mengangkat kalajengking itu sedemikian rupa sehingga tidak akan disengat. Atau mungkin, dia berpikir bahwa kalajengking itu dalam keadaan sekarat sehingga tidak akan menyengat.
Apa pun kemungkinannya, inti cerita di atas itu adalah respon spontan dari seorang manusia yang ingin menyelamatkan makhluk hidup lainnya, sekali pun mungkin hanya seekor serangga. Itu juga menunjukkan bahwa orang yang penuh kasih sayang memang demikian, sehingga sekali pun dia mungkin tidak menerima ucapan terima kasih dari makhluk yang ditolongnya, tidak menjadi masalah. Menolong itu sudah menjadi sifat alaminya, dan jika dia bisa menolong lagi, dia tetap akan melakukannya. Dia tidak tahu bagaimana caranya menyimpan kepahitan atau dendam.
Memang, kasih sayang adalah bahasa hati. Pada saat kita didorong oleh cinta kasih dan kasih sayang, kita mengulurkan tangan untuk menolong tanpa membeda-bedakan suku bangsa, kepercayaan atau ras orang lain. Dengan sinar kasih sayang, identifikasi yang menyangkut suku, kepercayaan, dll. menjadi sekunder, semua itu tidak lagi bermakna. Lebih jauh lagi, kasih sayang tidak hanya terkungkung bagi manusia, karena kasih sayang juga berlaku bagi binatang, serangga dan semua makhluk hidup. Itulah makna cinta kasih dan kasih sayang.
Akhir kata, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Daya Tarik Buddhisme

Written by Joqy on 1/08/2008 08:54:00 PM


Daya tarik Ajaran Buddha berkembang dengan mantap di seluruh dunia, khususnya bagi mereka yang mencari jawaban di arus globalisasi yang deras ini.

Jumlah pengikut Ajaran Buddha berkembang dengan pesat di banyak bagian dunia, teristimewa di Australia, Amerika Serikat dan banyak negara di Eropa.
Sebagian negara di Asia di mana Ajaran Buddha pernah secara paksa digantikan oleh ajaran komunisme, sekarang muncul kembali dengan gilang gemilang.
Mengapa ketertarikan terhadap Ajaran Buddha ini bertambah besar dan begitu cepat perkembangannya?
Barangkali karena semakin banyak orang yang mengakui fakta-fakta di sekitar Buddhisme. Yaitu:
Agama Buddha mengedepankan PERDAMAIAN yang sebenarnya dan tidak pernah menganjurkan Kekerasan Apapun di atas namanya.

Ajaran Buddha adalah salah satu Agama Dunia yang paling tua, yang hingga kini, mempunyai reputasi terhormat sebagai satu-satunya agama yang belum pernah mempunyai Perang Suci.

Tak ada satu tokoh Buddhis yang pernah maju ke medan perang untuk menaklukkan kafir atau untuk mengubah orang lain menjadi Penganut Ajaran Buddha.

Tak seorangpun yang pernah dihadapkan kepada pedang, atau dihukum gantung atau dengan kata lain dihukum karena tidak percaya pada Ajaran Buddha.

Agama yang menekankan Belas Kasih, Penerimaan dan Kebaikan

Umat Budha dikenal akan keteladanan, kebajikan hati dan keramahan mereka, bersifat menerima dan tidak mengedepankan cara-cara penghakiman.

Hingga saat ini, Buddhisme menyebar ke wilayah yang baru, tidak disebabkan oleh pengaruh Para Misionaris dengan tujuan agresif guna mengubah keyakinan orang lain, tetapi biasanya oleh inisiatif orang lokal yang mempersilahkan atau mengundang para guru agar dapat berbagi ajaran.

Agama yang menyediakan Jalan Terang untuk perkembangan Rohani dan Pribadi.

Ajaran Buddha bukanlah sebuah koleksi Mitos dan Cerita untuk menguji penalaran kita. Juga tidak hadir sebagai misteri yang hanya bisa dimengerti oleh para Biksu, Pandita atau sekelompok orang tertentu yang lebih disukai atau orang–orang Yang Terpilih.

Ajaran Buddha hadir sebagai Jalan Terang yang dapat di percaya dan bisa dilakukan siapa saja menurut pengertian, pemahaman dan kemampuannya sendiri, yang merupakan suatu metode yang dapat diterapkan, dan memberikan hasil yang bisa dialami dengan segera.

Agama yang mengajarkan untuk mengambil Tanggung Jawab Penuh atas Tindakan yang dilakukan.

Buddhisme tidak mencoba menerangkan masalah di dunia sebagai bagian dari rencana misterius Dewata. Tidak menyalahkan sesuatu pada nasib atau wangsit yang manapun terhadap apa saja yang terjadi, baik atau buruk atas pengalaman hidup yang dialami.
Malahan, Buddhisme mengajarkan bahwa kita harus bertanggung-jawab untuk hasil tindakan yang telah dilakukan dan sebagai penentu takdir kita sendiri. Alih–alih menghindar atau lari dari persoalan hidup, kita di anjurkan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada tanpa masalah.

Agama yang tidak mempunyai tempat untuk Kepercayaan Buta atau Pemujaan yang Tidak melalui Penalaran.

Banyak agama yang menekankan pada dogma dan menuntut pengikutnya untuk percaya secara membabi buta, hal ini menjadi aneh atau tanpa dasar dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Buddhisme tidak mempunyai doktrin seperti itu.

Buddha tidak menginginkan umatnya untuk percaya kepadanya secara membuta, melainkan mengajarkan pengikutnya untuk berpikir, untuk mempertanyakan dan untuk memahami ajarannya berdasarkan pengertian.

Ajaran tentang keterbukaan pikiran dan hati yang simpatik, yang menerangi dan menghangatkan alam semesta dengan sinar Kebijaksanaan dan Belas Kasih. Oleh karena itu Ajaran Buddha disebut Agama yang berdasarkan Analisis.


EHIPASSIKO Datang dan Lihatlah Sendiri, Agama yang menyambut baik Pertanyaan dan Pemeriksaan ke dalam Ajarannya sendiri.

Kebebasan berpikir sungguh penting. Ajaran Buddha dijalankan secara Ehipassiko, yang artinya mengundang untuk Datang dan Bukti kan, bukan Datang dan Percaya begitu saja. Ajaran yang membuka diri untuk ditelaah, diamati dan diselidiki. Tidak ada kewajiban atau paksaan apapun agar percaya atau menerima Ajaran Buddha.

Buddha menunjukkan Jalan Keselamatan, selanjutnya terserah setiap insan untuk memutuskan mau mengikutinya atau tidak. Buddha mengibaratkan Ajarannya sebagai RAKIT.

Agama yang menekankan nilai–nilai Universal

Ajaran yang menitik beratkan pada Kebahagiaan Sejati Bagi Semua Mahluk. Ajaran yang dapat dipraktekkan dalam masyarakat atau dalam pertapaan, oleh semua ras dan sistem kepercayaan. Ajaran yang sama sekali tidak memihak, sehingga tidak ada ‘TEROR’ di dalam Agama Buddha. Ajaran yang membebaskan umatnya dari cengkraman para Imam dan juga merupakan Jalan agar Bebas dari Kemunafikan dan Penindasan Keagamaan.

Buddhisme mengajarkan bahwa "Sesuai dengan benih yang telah ditabur, begitulah buah yang akan dituai. la yang berbuat baik akan menerima kebaikan, ia yang berbuat jahat akan menerima kejahatan". Hukum yang berlaku secara universal tanpa memerlukan Label Keagamaan.

Agama yang selaras dengan ilmu Pengetahuan Modern dan merupakan Agama Masa Depan

Ajaran Buddha tidak pernah merasa perlu untuk memberikan tafsiran baru terhadap ajarannya (kitab sucinya) atas Penemuan Ilmiah yang ada belakangan ini. Ilmu Pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan Buddhisme, karena Ajarannya yang bersifat Ilmiah.

Asas-asas Buddhisme dapat dipertahankan dalam keadaan apapun tanpa mengubah gagasan dasar. Ajaran Buddha dihargai sepanjang masa, oleh para cendikiawan, ilmuwan, ahli filsafat, kaum rasionalis, bahkan para pemikir bebas.

Inilah beberapa fakta yang telah menjadi daya tarik Buddhisme, sejak zaman dahulu, zaman kini hingga di waktu yang akan datang.

Subscribe in a reader

Pesta Blogger 2007Pesta Blogger 2007

Add to Technorati Favorites Firefox 2

Web Counter Since 01-01-2008

home page visits
photo inkjet printers