Vihara Girinaga & Buddhajayanti™

Spread Dhamma All Over the World

Photobucket

Buddhisme di Zaman Ilmiah

Written by Joqy on 1/08/2008 09:48:00 PM


Ajaran Buddha adalah sebuah agama besar yang menerangi umat manusia lebih dari dua puluh lima abad yang lalu dan membebaskan manusia dari segala perbudakan dan praktik takhayul. Ajaran Buddha adalah agama yang ilmiah. Buddha Gotama dewasa ini dihormati oleh setiap orang yang berbudaya dan cendekia, tidak pandang agama apa pun yang mereka anut, sementara pendiri sebagian besar agama lainnya hanya dihormati oleh para pengikutnya saja. Bukan hanya kaum agamawan saja, tetapi para pemikir bebas pun menghormati Yang Tercerahkan Sempurna ini.

Dari sudut pandang sejarah, tiada Guru lain yang pernah hidup di dunia ini yang telah memberikan kebebasan beragama yang begitu besar serta hak menentukan keyakinan bagi umat manusia. Sebelum munculnya Sang Buddha, agama hanya dimiliki dan dimonopoli oleh suatu kelompok tertentu dari masyarakat. Sang Buddha adalah Guru dalam sejarah yang tanpa diskriminasi membuka gerbang agama bagi setiap orang di masyarakat. Sang Buddha telah menasihati para pengikut-Nya untuk melatih dan mengembangkan kekuatan laten manusia serta menunjukkan cara terbaik untuk memanfaatkan kekuatan pikiran dan akal budinya tanpa menjadi budak dari suatu makhluk yang tak dikenal, untuk menemukan kebahagiaan abadi yang Beliau umumkan kepada dunia melalui pengalaman-Nya sendiri dan bukan melalui teori-teori, kepercayaan belaka, maupun praktik-praktik tradisional. Ajaran-Nya adalah sedemikian rupa sehingga siapa saja dapat menjalankannya tanpa menyandang merek agama tertentu.
Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
Tiada konflik antara ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan. Keduanya memiliki tujuan senada, yaitu untuk menyingkapkan ‘kebenaran’ dan ‘fakta’. Banyak aspek dalam ajaran Buddha yang sebenarnya selaras dengan penemuan ilmiah modern. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Sang Buddha pernah berkata bahwa alam semesta ini tidak terbatas dan jumlah dunia ini tidak terhingga. Hanya setelah Galileo Galilei mulai mengamati planet dan bintang dengan teleskop, manusia memiliki pengetahuan yang lebih maju tentang astronomi. Manusia mulai memahami dan menerima bahwa bumi ini bukanlah pusat alam semesta. Bumi hanyalah sebuah planet kecil dalam tata surya dan jumlah tata surya di alam semesta tidaklah terhingga. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, tanpa teleskop, Sang Buddha telah berkata demikian; hanya seorang yang ‘luar biasa’ lah yang mampu mengungkapkan kebenaran yang selama ini menjadi misteri besar alam semesta.
b. Sang Buddha juga mengatakan bahwa jumlah kehidupan dalam dunia ini dan dunia lainnya adalah tidak terbatas. Beliau menunjuk sebuah cawan berisi air dan mengatakan bahwa ada kehidupan di dalam cawan tersebut yang tak terbatas jumlahnya. Dewasa ini, para ilmuwan tidak bisa menyangkal kemungkinan adanya kehidupan di planet lain. Di bawah mikroskop, secawan air terbukti mengandung jutaan jasad renik. Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, tanpa mikroskop, Sang Buddha telah mampu mengungkapkan kebenaran semacam itu. Sungguh mengagumkan.
c. Salah satu prinsip ajaran Buddha menyatakan bahwa tiada sesuatu pun yang tidak berubah, segala sesuatu terus muncul dan lenyap. Hal ini sangat sesuai dengan teori atom Einstein E = mc2, membuktikan bahwa materi bisa diubah menjadi energi (lenyapnya zat) dan materi juga bisa terbentuk dari energi (munculnya zat).
d. Sang Buddha pernah berkata bahwa selama waktu Beliau menyelesaikan ceramah di bumi, ribuan tahun telah berlalu di dunia-dunia lainnya. Hal yang dianggap bagaikan dongeng ini tampaknya menjadi tidak asing lagi setelah Einstein mengemukakan Teori Relativitas.
Dalam sejarah peradaban, ilmu pengetahuan telah sering dianggap sebagai ancaman terhadap konsep keagamaan, sejak era Galileo, Bruno, Copernicus, dan Darwin. Akan tetapi, prinsip-prinsip dasar ajaran Buddha tidak bertentangan dengan penemuan ilmu pengetahuan. Sang Buddha telah mengutarakan hal yang senada dengan bahasa dan istilah yang berbeda.
Ungkapan penghargaan terhadap Sang Buddha dan ajaran-Nya juga telah diberikan oleh para filsuf, psikolog, dan pemikir di zaman modern ini, seperti Albert Einstein, H.G.Wells, Bertrand Russel, Aldous Huxley, C.G.Jung, Erich Fromm, dan lain-lain.
Dari sudut pandang ajaran Buddha, Kebenaran tidak memiliki batas-batas negara, bangsa, umat dan bahkan tidak memerlukan “merek” agama tertentu. Kebenaran bukanlah milik agama apa pun atau siapa pun. Ajaran Kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha bukanlah milik ekslusif diri-Nya atau umat-Nya. Sang Buddha semata-mata hanya telah menemukan dan melihat dengan jelas kebenaran tersebut. Seperti halnya Isaac Newton menemukan hukum gravitasi, dia bukanlah pemilik hukum tersebut.
Mengenai pentingnya keselarasan dan perpaduan antara agama dan ilmu pengetahuan, Albert Einstein mengatakan,” Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah pincang. Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta.” Ilmu pengetahuan bersama agama seperti Buddhisme bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih tenteram dan membahagiakan untuk ditinggali. Penting untuk dicatat, bahwa kalau kita pelajari lebih lanjut, tampak bahwa ajaran Buddha sebenarnya telah melampaui keterbatasan ilmu pengetahuan.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book
  1. 0 comments: Responses to “ Buddhisme di Zaman Ilmiah ”

Subscribe in a reader

Pesta Blogger 2007Pesta Blogger 2007

Add to Technorati Favorites Firefox 2

Web Counter Since 01-01-2008

home page visits
photo inkjet printers